Blah



Hello, pleased to have you here!
I'm Vania Stephanie Hosen, currently twenty-three. I suck at self-introduction, and even worse on self-explaining. See? Now you get what I mean. And oh, I speak fluent sarcasm.


Elsewhere
+ follow
emailfacebooktwitterinstagram
linked.inask.fmsoundcloud



Folks
Gina EkajatiChrisya Sabaru
Shella TanekeMichella Aurelia
Stefanie AdeliaKezia Debora
Yosea KurniantoMochamad Aldis
Hafid PradiptaAndita Purnama
Berliana OktovianiPratiwi Hamdhana
Winda YunnalM. Firmansyah Kasim



Timetravel


fictionwanderlustbirthday



Muse
• The Change Blog •
• Girl Meets Life •
• A Beautiful Mess •
• Escaping the Mainstream •
• Disrupting the Rabblement •
• Damien Rice •



disclaimer
Best viewed in Google Chrome.
© 2015 vaniahosen.blogspot.com. Layout made by tkh.
Post #australia365days
Thursday, April 13, 2017 | 4:59 PM | 0 comments (+)

Warning: Long post. May contain tjoerhat tak berkesudahan.
Reading time: 10 minutes.

Kalo yang ngikutin instagram gue harusnya udah pada tau ya, per 31 Maret 2017 kemarin (dengan berat hati) gue udah ninggalin Australia. Perjalanan gue di Australia yang awalnya direncakan setahun resmi berakhir dengan 362 hari aja, kurang 3 hari soalnya gue pulang mau ngasih surprise ke nyokap yang ultah hari itu (sukses loh btw surprisenya) gak ada yang nanya juga yak

362 hari gue yang dimulai dari Western Australia, Northern Territory, Queensland, sampai di New South Wales, cuma bisa dijelaskan dengan satu kata: BAHAGIA. Sampai pas meet up dengan teman-teman di Indonesia setelah balik pun, semuanya pada bilang: “kamu kelihatan bahagia banget!”, selain tentunya statement klasik yang gue denger tiap hari belakangan ini: “Van, kamu uiteman banget!” ato “udah punya cowok bule belom?” Kiss nih ya yang selalu nanya pertanyaan terakhir. Kamu kepo deh, makanya kamu gak ta’ kasih gantungan kunci koala!

Apa pun itu, kerabat, keluarga, dan wice-wice kesayangan bisa melihat aura bahagia gue ehciyeh yang kayak punya aura aja.
Makanya, gue personally pengen nulis post ini: tjurhat, pemikiran dan milestones gue di #Australia365days. Semata-mata untuk berbagi dengan kalian yang selalu care di Indonesah ketika adinda nan jauh di negeri kangguru xx


Traveling, Taking My Own Pace

Trip ini pertama kalinya gue long term traveling. Solo traveling sih sudah beberapa kali. Tapi sudah jelas trip ini berbeda dari solo traveling sebelumnya, soalnya waktunya panjang: setahun.

Gue yang dulu ketika masih kerja di corporate dan mau berlibur, hal yang paling ribet, selain menabung, udah pasti minta cuti. Maksimum gue dapet cutinya paling 10-15 hari setahun soalnya masih level ikan teri di corporate. Makanya gak salah ketika gue liburan, apa lagi ke luar negeri, jadwal per hari nya pasti padat. Semua aktivitas udah gue rencanain dari pagi sampai malam, setiap hari.

Tapi beda banget pas gue di Australia ini, mungkin karena gue tau gue gak ada deadline cuti, gak ada report yang nungguin, dan gue punya waktu setahun, gue jadi lebih santai. Kalo lagi males gerak, gak sedikit hari yang gue habiskan cuma dengan baca buku di hostel, main ke pantai, dan bobok cans sepanjang hari.

And the best of all, without any fear of running out of time in my holiday!


Lebih Mandiri

Ini poin klise. Gak usah panjang-panjang lah yah ngejelasinnya.
Gue udah bisa masak yang simpel sekarang, dulu bikin telor mata sapi aja gak bisa, sekarang udah bisa masak pasta walau instan.

Going Easy with Myself

Satu hal yang pengen gue sharing adalah, ketika gue traveling by myself, banyak kali travel plan gue gagal. Dan gue sebagai severe avid planner, this sucks.

Di bulan ke-11 gue di Australia, gue ngerencanain east coast roadtrip dari Cairns ke Sydney. Di awal perjalanan gue ketemu dua travel mates dari Facebook. In the middle of the way, kita cek cok, bertengkar, dan udah jelas gak bahagia lagi dengan roadtrip kita. Gue tanpa pikir panjang minta diturunin dari mobil, menggandeng backpack gue, say goodbye and wish them a safe travel. Tanpa rencana, tanpa akomodasi, dan worst of all, gue bahkan gak tau apa nama kota tempat gue diturunin.

Vania yang dulu yang super perfeksionis gak akan mampu mengatasi ini. Tapi ternyata gue gak nangis sama sekali, gak mengemis minta tolong sama temen-temen gue di Australia, atau gak desperate cerita ke teman-teman gue di Indonesia seberapa hopeless nya gue saat itu. Gue malah go easy, telling myself that it’s completely alright to have my plan wrecked.

What I did that day, I dropped my stuffs at the hostel, took a night walk near the shore, cooked myself a dinner, and had a good night sleep.

#Australia365days has taught me to go easy on myself, to go easy on failure.

Jadi Gue Apa Adanya

Seberapa banyak dari kita yang sebenarnya menjalin pertemanan karena diharuskan demikian? Misalnya teman kantor yang sebenernya kita gak seneng ama dia tapi have no choice ketika dia mau ikutan karaokean bareng? Atau teman sekolah yang jadi teman sekelompok soalnya ditentuin sama guru?

Traveling menyadarkan gue kalo we have the choice to whom to get along with. Kalo kamu gak suka sama gue, that’s fine. I will find other friends who will appreciate me, and so will you. Gue gak takut jadi diri gue apa adanya, yang males mandi dan males berteman sama lo kalo make up nya kelamaan. Kita gak perlu nyinyir-nyinyiran dan gak perlu saling nge-judge.

Sesimpel itu, semudah itu.

Pertemanan Mancanegara

Mulai dari teman yang ketemuan di bus dan di hostel, temen yang ngasih gue tumpangan pas gue hitchhike, road trip spontan dengan strangers yang cuma kenalan di Facebook, sampai kolega yang kerja bareng selama gue di Australia, sekarang gue punya teman dari berbagai negara yang membuka rumah mereka lebar-lebar kalo misalnya adinda mau berkunjung ke negara mereka.

Dan tentunya mereka juga bisa bobok di rumah orang tua gue kalo mereka ke Indonesia.

Hidup Simpel

Kalo dulu tiap traveling gue selalu ribet dengan koper dan banyak baju, ternyata selama hampir setahun di Australia, gue nyadar kalo gue bisa hidup hanya dengan beberapa lembar baju. Balik lagi, gak ada yang bakal peduli kalo kamu pake baju yang sama dengan kemarin, atau sepatumu gak pernah ganti-ganti. Gue ternyata bisa hidup sebulan dengan satu backpack, tenda murahan, dan sleeping bag pinjaman. When in some places during roadtrip, to have shower is even considered as luxury!

Gue gak takut gak bisa survive di Australia asalkan gue tau gue masih sehat, masih bisa kerja, tau hari ini makan apa dan tidur di mana. Gue jadi menghargai hidup yang sederhana, dan bersyukur lebih sungguh jika dunia memberikan sesuatu yang lebih.

Our Youth Only Lasts Once

So we better make most of it!

Jangan salah, gue dulu termasuk mahasiswa ambisius yang pengen climb up the career ladder and outpace everybody. Tapi itu sebelum gue mengenal traveling. Poin ini sengaja gue tulis, bukan untuk memotivasi kamu to quit your job and pack your stuffs, gue sungguh hanya ingin berbagi cerita tanpa maksud menghakimi.

Sekarang gue balik ke Indonesia dari Australia dengan status pengangguran tanpa acara. Butuh beberapa hari untuk meng-update cerita temen-temen gue. Ada yang sudah menikah, akan menikah, sudah beranak, akan beranak lagi, kantor baru, pacar baru, banyak banget cerita temen-temen yang gue lewatin. Sedangkan gue? Pulang dengan wajah tanned, baju kucel dan status pengangguran.

Kamu bukan satu-satunya yang pernah bilang ke gue, kalo sebenernya kamu juga pengen traveling, kalo hidup gue terlihat menyenangkan. Enggak, kamu bukan yang pertama, dan gak akan jadi yang terakhir. Plus, traveling gak selamanya menyenangkan, tapi gue bahagia dengan apa yang gue punya sekarang. And you should be happy with your life too!

Jadi, carilah sumber kebahagiaanmu.
Jika menurutmu itu adalah traveling, maka lakukanlah!
Setelah itu, perjuangkanlah, dan ambisiuslah.
Karena masa muda kita hanya sekali, dan kita pantas memaksimalkannya.

My #AUSTRALIA365DAYS in A Summary

Easily voted as the best year of my life so far.

A year of hope, breaking free, and self discovery.
Gue jadi tau apa yang gue mau, apa yang gue suka, apa yang gue benci, apa yang harus gue perjuangkan, dan apa yang membuat gue menjadi lebih hidup dari sekedar hidup.

--

Thursday, April 13, 2017
Karawaci, Tangerang, Indonesia

Labels: , ,






< O L D E R P O S T S     |     H O M E     |    N E W E R P O S T S >